terkinni.id – Tahun 2026 menandai peringatan 53 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Korea Selatan, sebuah tonggak penting yang mencerminkan perjalanan panjang kerja sama yang dilandasi oleh kepercayaan dan saling menghormati. Dalam momentum bersejarah ini, kunjungan kenegaraan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, ke Korea Selatan menjadi kesempatan strategis untuk memperdalam dan memperluas kemitraan kedua negara.
Sebagaimana disampaikan dalam wawancara Presiden Korea Selatan, kedua negara memiliki tanggung jawab bersama untuk berkontribusi dalam menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik serta mendorong perdamaian dan kemakmuran melalui kerja sama bilateral dan multilateral. Dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks—mulai dari proteksionisme hingga restrukturisasi rantai pasok—Indonesia dan Korea Selatan justru memiliki peluang untuk tampil sebagai mitra strategis yang saling melengkapi.
Korea Selatan dengan keunggulan teknologi dan pengalaman pembangunan ekonomi, serta Indonesia dengan kekayaan sumber daya alam dan demografi yang besar, merupakan kombinasi ideal untuk menciptakan hubungan yang bersifat win-win. Sinergi ini memungkinkan kedua negara tidak hanya meningkatkan daya saing ekonomi, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada pasar tertentu melalui diversifikasi kerja sama .
Lebih jauh lagi, implementasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia–Korea (CEPA) yang mulai berlaku pada tahun 2023 telah membuka jalan bagi kolaborasi konkret di berbagai sektor, termasuk pengembangan industri, pembangunan infrastruktur, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia . Di samping itu, kerja sama di bidang teknologi masa depan seperti kecerdasan buatan (AI), ekonomi digital, serta industri strategis seperti energi, galangan kapal, dan mineral kritis menunjukkan arah baru hubungan bilateral yang semakin maju.
Tidak kalah penting, kerja sama di sektor pertahanan—termasuk proyek pengembangan pesawat tempur generasi berikutnya—telah menjadi contoh nyata keberhasilan kolaborasi strategis kedua negara yang bahkan menarik perhatian dunia . Hal ini menunjukkan bahwa hubungan Indonesia–Korea Selatan tidak hanya terbatas pada ekonomi, tetapi juga mencakup dimensi keamanan dan stabilitas regional.
Namun, di atas semua itu, fondasi utama hubungan kedua negara adalah kepercayaan yang telah dibangun selama lebih dari setengah abad. Oleh karena itu, momentum kunjungan Presiden Prabowo harus dimanfaatkan untuk tidak hanya memperkuat kerja sama yang telah ada, tetapi juga memperluasnya ke bidang-bidang baru, termasuk pendidikan, budaya, dan pertukaran masyarakat.
Ke depan, Indonesia dan Korea Selatan perlu terus memperkokoh kemitraan ini melalui komunikasi yang lebih erat, kebijakan yang saling mendukung, serta komitmen bersama untuk menghadapi tantangan global. Dengan demikian, hubungan bilateral ini tidak hanya akan semakin kuat, tetapi juga menjadi pilar penting bagi stabilitas dan kemakmuran kawasan.
Kunjungan kenegaraan ini bukan sekadar peristiwa diplomatik, melainkan sebuah titik awal baru untuk merancang masa depan hubungan Indonesia–Korea Selatan yang lebih erat, lebih luas, dan lebih berkelanjutan.
Koh Young Hun
Profesor Emeritus Hankuk University of Foreign Studies, Seoul
Direktur The Korea-Indonesia Center


