terkinni.id – Kematian organisme budidaya akibat suhu air laut yang tinggi terus terjadi di pesisir selatan Provinsi Gyeongsang Selatan, Korea Selatan. Total kerugian tahun ini telah mencapai 11,05 miliar won, hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut Pemerintah Provinsi Gyeongsang Selatan pada 31 Agustus, sejak kerusakan akibat suhu air tinggi mulai terjadi pada akhir Juli, sebanyak 4,692 juta ikan budidaya dan 1.198 tali budidaya tunikata (Sea Pineapple) telah mati. Kerusakan terjadi di 204 lokasi budidaya yang tersebar di Namhae, Hadong, Tongyeong, dan Geoje.
Dari total kerugian, kematian ikan menyebabkan kerugian sebesar 5,29 miliar won, sementara kerugian akibat kematian tunikata mencapai 5,76 miliar won.

Pada periode yang sama tahun lalu, sebanyak 3,838 juta ikan budidaya mati dengan nilai kerugian sebesar 3,73 miliar won. Tahun ini, jumlah ikan yang mati telah melampaui tahun lalu, sementara nilai kerugian meningkat sekitar tiga kali lipat. Kerugian juga bertambah karena tahun ini terjadi kematian tunikata, yang tidak tercatat pada tahun lalu.
Saat ini, peringatan suhu air tinggi masih diberlakukan di seluruh perairan pesisir selatan Gyeongsang Selatan. Pada 30 Agustus, suhu di sejumlah perairan tercatat mencapai 29,6 derajat Celsius. Kondisi suhu air tinggi diperkirakan masih dapat berlanjut hingga akhir September.
Pemerintah provinsi meminta para pembudidaya untuk rutin memeriksa suhu dan kadar oksigen di lokasi budidaya serta meningkatkan pengelolaan guna mencegah kerugian.


