October27 , 2026

Rasionya Mengejutkan, Netizen Korea Ikut Soroti Perbedaan UMR dan Harga Barang di Indonesia dan Korea

Share

terkinni.id – Perbedaan upah minimum (UMR) dan harga kebutuhan di Indonesia dan Korea Selatan menjadi perbincangan hangat warganet setelah sejumlah unggahan di media sosial menyoroti perbandingan harga produk di kedua negara. Diskusi tersebut bahkan ramai dibahas di komunitas daring Theqoo.

Dalam unggahan yang beredar, seorang warganet awalnya menyoroti bagaimana UMR di Korea Selatan berada di kisaran 2 juta won, sama seperti di Indonesia yang berkisar di angka 2 juta rupiah tanpa dikonversikan namun berbanding hampir 6x lipat lebih rendah jika dikonversikan. Diskusi kemudian berlanjut saat warganet Korea menyadari perbandingan harga barang di Indonesia dan Korea yang ternyata tidak jauh berbeda.

Salah satu contoh yang disorot adalah momen aktor Cha Woomin yang sekadar menghabiskan 10 ribu won saat berbelanja di pasar tradisional. Dalam video yang beredar tampak bahwa dengan UMR sekitar 2 juta, uang senilai 10 ribu dapat membeli sejumlah bahan makanan sekaligus. Sementara itu, dengan nominal yang sama di Indonesia, masyarakat biasanya hanya bisa memperoleh satu bahan makanan saja.

Unggahan lainnya kemudian membandingkan harga air minum kemasan di kawasan Seongsu, Seoul, yang dijual seharga 300 won. Jika dianalogikan dengan UMR 2 juta rupiah di Indonesia, warganet memperkirakan harga tersebut seharusnya setara 300 rupiah. Akan tetapi pada kenyataannya, harga air minum kemasan di Indonesia justru bisa mencapai 3000 rupiah.

Contoh lain yang saat ini turut ramai disorot adalah produk tumbler Stanley yang dibanderol sekitar 21 ribu hingga 25 ribu won di Korea Selatan, sementara produk tersebut dengan model yang sama di Indonesia diketahui mencapai harga 550 hingga 800 ribu rupiah atau sekitar 40 hingga 59 ribu won.

Tak sampai di situ, pembahasan ini pun memunculkan komentar mengenai gambaran kehidupan masyarakat berpenghasilan rendah dalam drama Korea. Seorang warganet menilai perbedaan rasio tersebut dapat membantu menjelaskan mengapa karakter dengan kondisi ekonomi sulit dalam drama Korea kerap terlihat mampu memenuhi kebutuhan hidup selayaknya masyarakat berpenghasilan tinggi di Indonesia.

Merespons keadaan ini, warganet Korea kian menyoroti bagaimana masyarakat Indonesia dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan kondisi ekonomi relatif rendah seperti itu.

Related

Korea Selatan Latih 15 Pejabat Indonesia Perkuat Penanganan Kebakaran Hutan

terkinni.id – Korea Selatan melalui Dinas Kehutanan Korea (Korea...

Pameran Topeng Tradisional Indonesia–Korea Dibuka di Museum Nasional, Angkat Tema ‘Dua Wajah, Satu Jiwa’

terkinni.id – Pameran yang mempertemukan topeng tradisional Indonesia dan...

Indonesia–Korea Selatan Perkuat Kerja Sama Pendidikan Lewat Program KLIC!

terkinni.id – Indonesia dan Korea Selatan berupaya memperkuat kerja...

Melampaui Representasi Menuju Kreasi: Cakrawala Estetika Seni Fotografi Young Choi

terkinni.id – 1. Prasangka Lama tentang Fotografi Sejauh mana seni...