terkinni.id – 1. Prasangka Lama tentang Fotografi
Sejauh mana seni harus merepresentasikan realitas secara setia? Dan apakah penggambaran realitas sebagaimana adanya benar-benar dapat dianggap sebagai tujuan akhir seni? Pertanyaan-pertanyaan ini telah lama mengusik pikiran saya. Namun, ketika menyaksikan karya-karya fotografi Young Choi dalam pameran Buru-Jiwa-Bumi yang diselenggarakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, yang diselenggarakan ISI Bali dan The Korea-Indonesia Center, saya menemukan salah satu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menggelayuti benak saya.

Young Choi pada dasarnya adalah seorang akademisi di bidang ilmu komunikasi dan jurnalistik. Jika ilmu komunikasi dan jurnalistik merupakan disiplin yang mengamati, menganalisis, dan menafsirkan fenomena sosial, fotografi pun memiliki kesamaan dengannya, yakni mengamati realitas dan menemukan makna yang terkandung di dalamnya. Dalam hal ini, kedua bidang tersebut memiliki landasan yang saling bersinggungan. Namun, Choi, yang telah memasuki ranah seni fotografi dari dunia akademis, tidak berhenti pada upaya merekam atau menyampaikan realitas semata. Melalui kameranya, ia menafsirkan kembali realitas dan mentransformasikan benda-benda yang ada di hadapannya menjadi suatu dunia estetis yang berbeda.
Sejak lama saya memandang fotografi terutama sebagai teknik untuk mereproduksi realitas secara setia. Saya sendiri pernah menekuni fotografi selama beberapa tahun sebelum akhirnya meninggalkannya. Meskipun perkembangan kemampuan kamera dan teknik fotografi yang semakin mampu menangkap objek secara akurat dan tajam cukup menarik perhatian saya, pencapaian teknis semacam itu tidak mampu memenuhi hasrat kreatif saya. Pada waktu itu, saya beranggapan bahwa keunggulan sebuah foto ditentukan oleh seberapa akurat objek dapat ditangkap dan seberapa sempurna penampakan realitas dapat direproduksi.
Jika direnungkan kembali, pandangan tersebut tampaknya telah berakar sejak masa kanak-kanak saya. Ketika duduk di bangku sekolah dasar, saya pernah mempelajari seni kaligrafi tradisional. Namun, tidak lama kemudian saya meletakkan kuas dan berhenti menekuninya. Pada masa itu, kaligrafi bagi saya tidak lebih dari latihan meniru bentuk aksara yang telah ditentukan dengan setepat mungkin. Alih-alih menciptakan sesuatu yang baru, saya merasa hanya sedang menyalin suatu pola yang sudah tersedia. Tentu saja, sekarang saya memahami bahwa kaligrafi merupakan bentuk seni yang tinggi, yang mampu mengungkapkan dunia batin senimannya melalui irama sapuan kuas, variasi kepekatan tinta, dan pemanfaatan ruang kosong. Akan tetapi, sebagai seorang anak, saya belum mampu mencapai pemahaman semacam itu.
Pandangan saya terhadap fotografi pun tidak jauh berbeda. Saya percaya bahwa foto terbaik adalah foto yang mampu mereproduksi realitas dengan kesetiaan seratus persen. Dengan pemahaman demikian, fotografi bagi saya lebih dekat dengan teknik representasi daripada seni kreasi. Namun, karya-karya fotografi Young Choi secara mendasar mengguncang pandangan yang telah lama mengakar tersebut.
2. Fotografi yang Mencapai Ranah Seni Lukis
Ketika pertama kali berhadapan dengan foto-foto karya Choi, saya mengalami kesulitan membedakannya dari lukisan. Meskipun jelas merupakan karya fotografi, foto-foto tersebut memiliki tekstur dan kedalaman yang lazim ditemukan dalam seni lukis, disertai resonansi emosional yang halus, seolah-olah lahir dari sapuan kuas seorang pelukis. Khususnya, foto-foto yang menampilkan guci keramik bukan sekadar reproduksi bentuk dan warna benda tersebut. Melalui permainan cahaya dan bayangan, fenomena alam dalam empat musim, serta hubungan antara objek dan lingkungan sekitarnya, guci-guci itu tidak lagi tampil sebagai benda keseharian, melainkan menjelma menjadi kehadiran artistik yang seakan memiliki daya hidup tersendiri.
Sebagaimana dikemukakan dalam tulisan pengantar katalog pameran ini, Choi menciptakan kembali objek-objeknya melalui pengolahan cahaya, sudut pengambilan gambar, jarak, komposisi, dan perubahan bayangan. Dalam karya Pure Fullness (2026), sebuah guci porselen putih berbentuk bulan (moon jar) yang ditempatkan di hadapan latar hitam tampak seolah memancarkan cahaya dari dalam dirinya sendiri. Dalam Golden Stardust (2026), jejak-jejak keemasan pada keramik hitam berpadu dengan serat-serat halus kertas tradisional Korea, hanji, sehingga menghadirkan dunia tekstur yang khas. Sementara itu, dalam Echoes of Grace (2022), lipatan kain putih beresonansi dengan lengkungan wadah porselen, sehingga batas antara fotografi dan seni lukis menjadi semakin samar.



Hal yang terutama menarik perhatian saya ialah bahwa efek piktorial tersebut tidak sekadar membuat foto tampak menyerupai lukisan. Dalam foto-foto Choi terkandung cahaya dan ekspresi benda yang dipadatkan pada momen tertentu yang berhasil ditangkap oleh sang seniman. Momen itu direkam oleh kamera, tetapi pada saat yang sama dilahirkan kembali melalui pilihan-pilihan estetis sang fotografer. Hasilnya, citra fotografis memperoleh tekstur piktorial yang khas, seolah-olah pigmen warna meresap ke dalam kanvas dan serat-serat permukaannya menjadi hidup. Karya-karya tersebut tetap merupakan fotografi, tetapi memancarkan nuansa dan kepekaan seni lukis.
Justru pada titik inilah saya memandang Choi sebagai seniman yang telah mengangkat fotografi ke ranah seni lukis. Tentu saja, hal ini tidak berarti bahwa fotografi harus menyerupai lukisan agar dapat diakui sebagai seni. Fotografi memiliki bahasa estetikanya sendiri. Namun, dengan menghadirkan kedalaman dan tekstur piktorial melalui kemampuan khas fotografi dalam menangkap momen sesaat, Choi memperluas kemungkinan ekspresi medium fotografi. Karya-karyanya bukan sekadar perpaduan antara fotografi dan lukisan, melainkan suatu eksperimen artistik baru yang melintasi batas-batas kedua bidang seni tersebut.
3. Refleksi Realitas yang Terbiaskan dan Kreasi Artistik
Sebagai seseorang yang telah lama berkecimpung dalam kritik sastra, saya menemukan bahwa dunia artistik Choi juga mengundang perenungan dari perspektif intelektual yang lain. Secara khusus, karya-karyanya mengingatkan saya pada pendekatan sosiologi sastra Georg Lukács dan Lucien Goldmann, terutama pandangan mereka mengenai hubungan refleksi antara seni dan realitas.
Seni merefleksikan realitas. Namun, refleksi tersebut bukanlah proses mekanis sebagaimana cermin memantulkan penampakan luar suatu benda. Bagi Lukács, yang terpenting bukanlah reproduksi permukaan fenomena individual, melainkan pengungkapan hubungan-hubungan esensial dan totalitas realitas melalui fenomena tersebut. Demikian pula, Goldmann tidak memahami hubungan antara karya sastra dan realitas sosial sebagai korespondensi langsung yang bersifat satu banding satu. Ia justru menekankan hubungan struktural antara struktur internal karya sastra dan pandangan dunia suatu kelompok sosial.
Meskipun posisi teoretis kedua pemikir tersebut tidak sepenuhnya sama, keduanya memiliki suatu perhatian mendasar yang serupa: seni tidak dapat dipahami sebagai salinan realitas belaka. Refleksi artistik merupakan tindakan merekonstruksi realitas melalui kesadaran, kepekaan, dan proses pembentukan estetis sang seniman. Saya ingin menyebut proses ini sebagai “refleksi yang terbiaskan” (refracted reflection).
Fotografi Choi memperlihatkan proses tersebut dengan sangat jelas. Guci keramik yang ditempatkan di hadapan kameranya merupakan benda nyata yang dapat dijumpai oleh siapa pun. Namun, guci yang muncul melalui visi fotografinya tidak lagi identik dengan guci yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Melalui sudut pandang, kepekaan, pemahaman terhadap cahaya, dan imajinasi bentuk sang seniman, benda itu memperoleh makna yang sama sekali baru. Sebuah objek dari dunia nyata mengalami pembiasan melalui kesadaran batin seniman, kemudian hadir kembali sebagai realitas artistik yang baru.
Di sinilah terletak orisinalitas dan kekuatan seni fotografi Choi. Foto-fotonya berangkat dari realitas, tetapi tidak terbelenggu oleh penampakan luarnya. Ia merepresentasikan realitas secara setia, sekaligus melampauinya. Ia tidak berhenti pada perekaman hal-hal yang terlihat, tetapi mengungkapkan emosi dan makna yang tersembunyi di balik permukaan yang kasatmata. Tanpa menyangkal hubungan mendasar antara fotografi dan realitas, Choi secara radikal memperbarui cara realitas tersebut direfleksikan.
4. Pencapaian Artistik yang Mendapat Apresiasi di Bali
Hal yang membuat pameran ini semakin bermakna adalah kenyataan bahwa karya-karya fotografi Choi dipamerkan bersama karya seni lukis dan keramik. Meskipun berbagai medium seni tersebut hadir dalam ruang pamer yang sama, foto-foto Choi tidak berada di bawah bayang-bayang seni lukis ataupun bergantung pada karya keramik. Sebaliknya, foto-foto itu memperlihatkan kehadiran artistiknya sendiri, seolah-olah sedang berlangsung suatu dialog di antara berbagai genre seni. Menurut saya, orisinalitas inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa fotografi Choi memperoleh banyak pujian dalam pameran bersama di ISI Bali tersebut.
Yang sangat berkesan bagi saya adalah tanggapan Agung Rai, pendiri Agung Rai Museum of Art (ARMA), salah satu museum seni yang memiliki reputasi internasional di Bali. Agung Rai sangat terpikat oleh foto-foto guci keramik karya Choi. Ia menyatakan bahwa dirinya dapat merasakan seolah-olah ada gairah batin yang menyala dalam karya-karya tersebut. Kemampuannya menangkap energi batin yang begitu kuat dari citra sebuah guci keramik yang tampaknya sederhana memperlihatkan dengan jelas kekuatan artistik fotografi Choi.


Choi kemudian menyumbangkan dua karya tersebut kepada Museum ARMA. Dalam menyampaikan rasa terima kasihnya, Agung Rai menyatakan bahwa kedua foto itu telah semakin memperkaya koleksi museumnya. Selain itu, atas permintaan pihak ISI Bali, Choi juga menyumbangkan sembilan karya dari pameran tersebut kepada perguruan tinggi itu. Karya-karya tersebut akan menjadi bagian dari koleksi permanen ISI Bali dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa serta para peneliti untuk menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru dalam seni fotografi.
Rangkaian peristiwa ini memiliki makna yang jauh melampaui pengakuan internasional terhadap karya seorang seniman. Seni fotografi Korea telah memasuki dialog estetis yang baru dengan tradisi seni lukis dan keramik Bali. Hasil dari perjumpaan tersebut akan tetap tersimpan sebagai aset budaya yang berkelanjutan di sebuah museum dan lembaga pendidikan tinggi seni setempat. Dalam pengertian ini, pameran tersebut merupakan kontribusi yang bermakna bagi pertukaran seni dan budaya antara Korea dan Indonesia.
5. Melampaui Batas antara Fotografi dan yang Bukan Fotografi
Beberapa tahun yang lalu, saya pernah mengunjungi Art Basel di Swiss, salah satu ajang seni kontemporer paling bergengsi di dunia. Ketika mengamati berbagai karya yang dipamerkan, saya terus-menerus dihadapkan pada sebuah pertanyaan mendasar: Apa yang membedakan seni dari yang bukan seni? Berdasarkan kriteria apakah sebuah benda biasa dapat dibedakan dari sebuah karya seni? Sebagian karya yang dipamerkan tampak tidak lebih dari benda-benda keseharian, sementara sebagian lainnya terasa begitu jauh dari bentuk-bentuk seni tradisional sehingga sulit bagi saya untuk memahami kedudukannya sebagai karya seni. Meskipun demikian, semuanya dipamerkan atas nama seni.
Pada waktu itu, saya sulit menemukan jawaban yang memuaskan mengenai batas antara seni dan yang bukan seni. Tentu saja, saya mengetahui bahwa seni kontemporer telah lama mempertanyakan keberadaan batas-batas semacam itu. Namun, memahami persoalan tersebut secara intelektual dan menerimanya secara estetis ketika berhadapan langsung dengan karya seni merupakan dua pengalaman yang berbeda.
Pameran fotografi Choi kali ini mendorong saya untuk kembali merenungkan pertanyaan tersebut, tetapi dalam bentuk yang lebih khusus. Alih-alih sekadar bertanya, “Apakah seni itu?”, saya mulai mempertanyakan: Sampai di manakah fotografi tetap merupakan fotografi, dan pada titik manakah ia mulai menjadi sesuatu yang bukan lagi fotografi? Ketika sebuah foto tampak menyerupai lukisan, apakah ia masih tetap merupakan foto?
Melalui karya-karya Choi, saya menemukan jawaban saya sendiri. Batas antara fotografi dan seni lukis memang ada, tetapi batas tersebut tidak harus menjadi penghalang yang membatasi kemungkinan penciptaan artistik. Yang terpenting bukanlah semata-mata medium yang digunakan untuk menghasilkan sebuah karya, melainkan dunia estetis baru yang berhasil diciptakan seniman melalui medium tersebut.
Foto-foto Choi tidak diragukan lagi merupakan karya fotografi. Namun, karya-karya itu bukanlah reproduksi mekanis realitas. Foto-foto tersebut merupakan kreasi artistik, tempat realitas dilahirkan kembali dengan makna dan tekstur baru melalui visi dan imajinasi sang seniman. Karya-karya itu bersifat fotografis sekaligus piktorial, dan meskipun memiliki kualitas seni lukis, tetap mempertahankan kemampuan khas fotografi untuk menangkap momen sesaat dan kehadiran langsung suatu peristiwa. Dalam pelintasan batas-batas inilah saya menemukan kemungkinan baru bagi seni fotografi.
Dalam pengertian tersebut, pameran ini memberikan kepada saya jauh lebih banyak daripada sekadar kesempatan untuk menikmati karya seni. Pameran ini menjadi pengalaman berharga yang mendorong saya meninjau kembali pandangan lama saya tentang fotografi serta merenungkan kembali hakikat penciptaan artistik. Bahkan, pengalaman ini membuat saya mengenang kembali keputusan saya meninggalkan kaligrafi pada masa kanak-kanak dan fotografi ketika dewasa. Barangkali, apa yang selama ini saya cari dalam seni bukanlah kemampuan mereproduksi realitas dengan ketepatan setinggi mungkin, melainkan kemampuan memandang dan menafsirkan realitas dengan cara yang sama sekali baru.
Young Choi kini memperluas pengalamannya sebagai akademisi yang terbiasa mengamati dan menafsirkan realitas ke dalam ranah seni fotografi. Saya menantikan cakrawala artistik baru yang akan dibukanya di persimpangan antara penyelidikan akademis dan praktik kreatif. Karya-karyanya dalam pameran ini telah memperlihatkan bahwa fotografi dapat melampaui fungsi dokumenternya dan menjadi medium perenungan yang mendalam serta kepekaan estetis.
Saya berharap Choi akan terus mengembangkan visi artistik dan kepekaan estetikanya yang khas, menemukan bentuk-bentuk keindahan dan makna baru yang tersembunyi di balik permukaan realitas, serta mentransformasikannya menjadi karya-karya fotografi yang semakin mendalam dan bermakna.
Fotografi mungkin dapat berfungsi sebagai cermin yang memantulkan realitas. Namun, fotografi Young Choi merupakan seni yang menciptakan kembali realitas yang terpantul dalam cermin tersebut.
Inilah pemahaman paling berharga yang saya peroleh dari pameran ini.
—Koh Young Hun, Profesor Emeritus, Hankuk University of Foreign Studies, Seoul/Direktur The Korea-Indonesia Center



