terkinni.id – Setelah Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat menahan suku bunga acuan selama dua kali berturut-turut, Bank of Korea juga diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di level 2,50% untuk sementara waktu. Komite Kebijakan Moneter Bank of Korea sebelumnya telah menahan suku bunga sebanyak enam kali berturut-turut hingga Februari.
Salah satu alasan utama penahanan suku bunga adalah meningkatnya tekanan inflasi. Kenaikan harga minyak akibat situasi Iran memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi. Selain itu, penurunan suku bunga berpotensi memperlebar selisih dengan suku bunga AS dan melemahkan nilai won.
Di Amerika Serikat, keputusan menahan suku bunga juga didasarkan pada kekhawatiran inflasi. Ketua The Fed, Jerome Powell, menyatakan bahwa guncangan energi dapat memicu ekspektasi inflasi. The Fed juga menaikkan proyeksi inflasi tahun ini menjadi 2,7%.
Meskipun masih ada kemungkinan penurunan suku bunga terbatas, prospek tersebut melemah dibanding sebelumnya. Hal ini membuat Bank of Korea diperkirakan akan kembali menahan suku bunga dalam pertemuan berikutnya.
Tekanan inflasi juga terlihat di Korea. Indeks harga impor pada Februari naik 1,1% dibanding Januari, melanjutkan tren kenaikan selama delapan bulan. Harga minyak mentah, nafta, dan bahan bakar jet tercatat meningkat signifikan.
Di sisi lain, ketidakstabilan pasar perumahan juga menjadi faktor yang menghambat penurunan suku bunga. Bank of Korea menilai meskipun kenaikan harga rumah melambat, masih terdapat potensi risiko. Para anggota komite menekankan perlunya sikap hati-hati dan netral dalam kebijakan moneter. Proyeksi juga menunjukkan sebagian besar anggota memperkirakan suku bunga akan tetap di level 2,50% dalam enam bulan ke depan.


