terkinni.id – Menurut sumber pemerintah Korea Selatan pada Minggu (8/3), putaran pertama Free Trade Agreement (FTA) Korea-ASEAN akan diadakan di Jakarta bulan April mendatang. Jadwal ini menandai dimulainya diskusi skala penuh setelah FTA Korea-ASEAN resmi diumumkan pada Oktober tahun lalu.
Dengan Choi Jin Hyuk—Direktur Jenderal Kebijakan Perjanjian Perdagangan di Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Republik Korea—sebagai pemimpin negosiasi, sejumlah delegasi kementerian Korea Selatan akan ikut andil dalam diskusi ini. Sementara itu, pihak ASEAN akan diwakili oleh Singapura.
Usulan untuk meningkatkan FTA Korea-ASEAN sendiri pertama kali diajukan oleh Presiden Lee Jae-myung pada KTT Korea-ASEAN yang diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia, Oktober tahun lalu. Saat itu, Presiden Lee menetapkan target peningkatan volume perdagangan Korea-ASEAN dari 192,8 miliar USD pada tahun 2024 menjadi 300 miliar USD (sekitar KRW 446 triliun) pada tahun 2029.
Pemerintah Korea Selatan dan negara-negara ASEAN—Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Vietnam, dan Thailand—berencana untuk berfokus pada rantai pasokan, digitalisasi, dan ekonomi hijau melalui perjanjian ini. Hal ini juga dipertimbangkan mengikuti perubahan lingkungan perdagangan sejak FTA Korea-ASEAN berlaku pada tahun 2007 silam.
Adapun diikuti rencana pengadaan kebijakan baru yang berfokus pada ASEAN, diversifikasi perdagangan luar negeri yang sebelumnya dipusatkan pada Tiongkok mungkin juga akan berubah. Terlebih, sejak FTA Tiongkok-ASEAN mulai berlaku pada tahun 2010, perdagangan barang antara kedua wilayah telah meningkat hampir tiga kali lipat dan pasar ASEAN kian dinilai terkikis oleh produk-produk Tiongkok.
ASEAN sendiri telah menjadi mitra ekspor terbesar ketiga Korea, setelah AS dan Tiongkok. Pada tahun 2024, produk domestik bruto (PDB) gabungan dari sepuluh negara ASEAN tersebut hampir mencapai 3,8 triliun USD.


