terkinni.id – Porsi bus listrik produksi Korea Selatan pada semester pertama tahun ini mencapai 77,7%, tertinggi sepanjang sejarah. Angka tersebut menunjukkan pemulihan signifikan setelah sempat turun ke titik terendah 45,8% pada 2023. Sebelumnya, porsinya tercatat 61,5% pada 2021, 58,1% pada 2022, dan kembali meningkat menjadi 63,3% pada 2024.
Peningkatan ini diperkirakan berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang setiap tahun memperketat persyaratan pemberian subsidi bus listrik. Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan terus memperketat standar subsidi berdasarkan kepadatan energi baterai, termasuk jarak tempuh dalam sekali pengisian daya. Bus listrik buatan Tiongkok umumnya menggunakan baterai lithium iron phosphate (LFP) yang memiliki kepadatan energi relatif rendah.
Tahun ini, Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi juga mulai menerapkan subsidi yang berbeda untuk bus berlantai rendah berdasarkan kepadatan energi baterai. Akibatnya, bus listrik buatan Tiongkok semakin sulit memperoleh subsidi dari kedua kementerian tersebut.
Situasi berbeda terlihat pada mobil listrik penumpang. Porsi mobil listrik produksi Korea terus menurun setelah mencapai 69% pada 2022. Angkanya turun menjadi 62,7% pada 2023, 59,6% pada 2024, 51,8% tahun lalu, dan kembali turun menjadi 51,2% pada semester pertama tahun ini.
Penurunan ini terjadi seiring semakin kuatnya kehadiran mobil listrik buatan Tiongkok di pasar Korea, termasuk Tesla Model Y yang diproduksi di Shanghai dan merek seperti BYD. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap daya saing mobil listrik produksi dalam negeri sekaligus memunculkan desakan agar pemerintah memberikan dukungan tambahan bagi industri otomotif domestik.


