terkinni.id – Ketidakstabilan rantai pasok energi akibat situasi di Timur Tengah diperkirakan dapat menekan pertumbuhan ekonomi Korea Selatan dan meningkatkan inflasi jika berlangsung dalam jangka panjang.
Menurut “Laporan Prospek Ekonomi Agustus 2026” yang dirilis Bank of Korea pada 31 Agustus, jika situasi di Timur Tengah mengalami kebuntuan, pertumbuhan ekonomi Korea Selatan diperkirakan turun 0,1 poin persentase tahun ini dan 0,3 poin persentase tahun depan dibandingkan proyeksi dasar. Sebaliknya, inflasi harga konsumen diperkirakan naik masing-masing 0,1 dan 0,4 poin persentase.
Analisis Korea Development Institute (KDI) pada Mei menunjukkan bahwa dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi berbeda tergantung penyebabnya. Jika kenaikan harga minyak Dubai meningkat 10 poin persentase akibat ketidakpastian pengangkutan minyak mentah, inflasi harga konsumen Korea Selatan naik 0,20 poin persentase. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan kenaikan 0,11 poin persentase akibat faktor permintaan dan pasokan umum, seperti peningkatan permintaan atau pengurangan produksi oleh negara produsen.
Untuk menghadapi risiko krisis rantai pasok energi, pemerintah Korea Selatan mendorong diversifikasi sumber impor minyak mentah. Pemerintah juga mengalokasikan 42,5 miliar won untuk peningkatan fasilitas penyulingan bagi minyak mentah dari sumber yang lebih beragam dan 3,5 miliar won untuk pengembangan teknologi prapengolahan serta proses penyulingan minyak mentah non-Timur Tengah.
Kapasitas penyimpanan minyak yang saat ini sekitar 146 juta barel juga akan ditambah lebih dari 20 juta barel. Anggaran investasi untuk program cadangan minyak tahun depan dinaikkan dari 55,3 miliar won menjadi 328,7 miliar won. Pemerintah juga mendorong pembentukan dana keamanan industri dan sumber daya untuk membiayai diversifikasi sumber impor minyak mentah serta perluasan cadangan.


