June2 , 2026

Organisasi Korban 18 Mei Protes Starbucks ke Kantor Pusat AS atas Kontroversi “Tank Day”

Share

terkinni.id – Yayasan Peringatan 18 Mei (5·18 Memorial Foundation) bersama tiga organisasi korban Gerakan Demokratisasi Gwangju 18 Mei mengirim surat protes resmi kepada kantor pusat Starbucks di Amerika Serikat. Mereka menuntut investigasi menyeluruh, permintaan maaf resmi, serta pemberian sanksi kepada pihak yang bertanggung jawab atas kontroversi pemasaran Starbucks Korea yang dikenal sebagai “Tank Day”.

Dalam surat yang ditujukan kepada CEO dan Dewan Direksi Starbucks, organisasi tersebut menilai kampanye pemasaran yang dilakukan menjelang peringatan Gerakan Demokratisasi 18 Mei telah menimbulkan luka bagi para korban, keluarga korban, dan masyarakat Korea. Mereka juga menegaskan bahwa tindakan operator Starbucks Korea dinilai bertentangan dengan nilai-nilai hak asasi manusia, keberagaman, dan tanggung jawab sosial yang selama ini dikampanyekan Starbucks di tingkat global.

Kontroversi bermula pada 18 Mei 2026 ketika Starbucks Korea menggelar promosi diskon untuk produk “Tank Tumbler”. Nama acara “Tank Day” serta slogan “Chaeksange Tak” (“meja dipukul dan berbunyi ‘tak’”) memicu kritik luas karena dianggap mengingatkan pada dua peristiwa traumatis dalam sejarah demokrasi Korea Selatan. Kata “tank” diasosiasikan dengan kendaraan militer yang digunakan dalam penumpasan Gerakan Demokratisasi Gwangju pada tahun 1980. Sementara itu, frasa “Chaeksange Tak” mengingatkan publik pada pernyataan kontroversial pemerintah Korea Selatan saat menjelaskan kematian aktivis mahasiswa Park Jong-chul akibat penyiksaan pada tahun 1987. Saat itu, pihak berwenang menyatakan bahwa Park meninggal setelah pihak berwenang “memukul meja dan berbunyi ‘tak’”, sebuah penjelasan yang kemudian dianggap sebagai upaya menutupi fakta penyiksaan yang sebenarnya terjadi.

Gelombang kritik segera menyebar di media dan masyarakat sipil. Menanggapi kontroversi tersebut, Starbucks Korea menghentikan promosi tersebut dan mengeluarkan pernyataan permintaan maaf. Setelah itu, CEO Starbucks Korea Son Jeong-hyun dan seorang eksekutif terkait diberhentikan dari jabatannya. Ketua Shinsegae Group, Chung Yong-jin, juga menyampaikan permintaan maaf kepada publik dan berjanji melakukan evaluasi serta perbaikan terhadap proses internal perusahaan.

Meski demikian, organisasi korban 18 Mei menilai langkah tersebut belum cukup. Mereka meminta kantor pusat Starbucks melakukan penyelidikan langsung terhadap proses perencanaan dan persetujuan kampanye tersebut. Menurut mereka, kegagalan mengambil tindakan yang memadai dapat merusak kepercayaan konsumen sekaligus mempertanyakan komitmen Starbucks terhadap standar hak asasi manusia yang selama ini diklaim perusahaan di tingkat global.

Related