terkinni.id – Baru-baru ini, kunjungan dari Indonesia ke universitas-universitas dalam negeri Korea telah berlangsung secara signifikan. Hal ini ditujukan untuk memperluas pertukaran internasional, penelitian bersama, dan pertukaran mahasiswa di sektor pendidikan serta menunjukkan bahwa terdapat minat yang tinggi terhadap permintaan akan tenaga kerja keperawatan lansia, pendidikan bahasa Korea, dan pelatihan praktis di sektor kesehatan dan gizi.
Secara khusus, hal ini juga berhubungan dengan penetapan 24 perguruan tinggi vokasi Korea oleh Kementerian Hukum dan Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan sebagai pusat pelatihan tenaga kerja asing di bidang keperawatan.
Universitas Sari Mutiara Indonesia (USM Indonesia) contohnya, telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Hyejeon College untuk menjalani program pendidikan dasar keperawatan dan bahasa Korea selama tiga tahun di Indonesia, diikuti pendidikan khusus selama satu tahun di bidang kesejahteraan lansia dan praktik klinis di Korea.
Kemudian, pada bulan Februari lalu, Choonhae College of Health Science juga mengunjungi Kementerian Kesehatan Indonesia dan Politeknik Kesehatan Jakarta II guna membahas kerja sama internasional di sektor kesehatan. Mereka berencana untuk mempromosikan pertukaran dosen dan mahasiswa yang berpusat pada Departemen Radiologi, pengembangan kurikulum dan gelar bersama, serta kolaborasi penelitian dan pertukaran akademik.
Chungang University pun diketahui telah menjalin kemitraan dengan Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada untuk melakukan penelitian bersama, pertukaran mahasiswa, dan kerja sama akademik.
Kyungpook National University juga berkolaborasi dengan Universitas Brawijaya di bidang ilmu pangan dan bioteknologi untuk memperkuat kemampuan globalnya di bidang penyakit menular dan perawatan kesehatan melalui program kerja sama internasional, seperti double degree, penelitian bersama, dan pertukaran mahasiswa.
Analisis menunjukkan bahwa alasan lembaga dan universitas di Indonesia memperkuat kerja sama dengan universitas-universitas Korea adalah karena meningkatnya minat lokal terhadap model pendidikan vokasi ala Korea, terutama di sektor kesehatan dan gizi.
Bagi Indonesia, situasi Korea dinilai sebagai kesempatan baru untuk memperoleh lapangan kerja. Indonesia pun telah melakukan perekrutan perawat dan pengasuh melalui kerja sama dengan pemerintah Korea (GtoG) dan dengan Jepang melalui Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA).
Rektor Samhyook Health University, Park Joohee, menyatakan, “Peran 24 universitas yang ditunjuk pemerintah untuk melatih perawat asing adalah sangat penting. Upaya bersama dari otoritas terkait dan universitas diperlukan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Korea dan kualitas pelatihan lapangan bagi mahasiswa asing. Karena transisi ke status kependudukan yang berbeda, perlindungan hak-hak buruh, dan adaptasi terhadap masyarakat setempat setelah memperoleh kualifikasi juga penting, hasil dapat dicapai jika hal-hal seperti transisi kependudukan, perlindungan hak-hak buruh, dan adaptasi dengan masyarakat setempat dapat diimplementasikan secara cermat melalui solidaritas bersama antara kementerian dan pemerintah daerah.”


