terkinni.id – Lakon Indonesia kembali meramaikan JF3 Fashion Festival dengan memperkenalkan koleksi batik ready-to-wear terbaru, yang sekaligus menjadi koleksi kesembilan HARSA sejak pertama kali diperkenalkan. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, koleksi kali ini ingin menenkankan keindahan proses di balik sebuah karya, dengan menyoroti perjalanan panjang craftsmanship yang melibatkan para artisan sebagai bagian penting dari proses kreatif.
Founder Lakon Indonesia, Thresia Mareta, mengungkapkan bahwa koleksi ini merupakan hasil eksperimen yang terus berkembang sejak delapan tahun terakhir. Berbagai proses trial and error menjadi bagian dari perjalanan tersebut hingga akhirnya melahirkan koleksi yang dinilai lebih kompleks dibanding sebelumnya. Meski begitu, ia mengungkapkan, “Kebahagiaan itu saat menjalani proses dan akhirnya bisa sampai jadi. Walaupun saya belum bisa bilang ini sudah sempurna, tapi sudah kelihatan.”

Selain menghadirkan koleksi terbaru, Lakon Indonesia kali ini juga menjalin kolaborasi lintas budaya dengan brand tas asal Korea Selatan, EUNEUN, memperlihatkan hasil dari perjalanan kerja sama antara Indonesia dan Korea Selatan. Thresia juga menilai kolaborasi ini menjadi “kesempatan yang sangat baik dari sisi bisnis kedua belah pihak”.

Dalam koleksi HARSA ini, Lakon Indonesia ingin mendorong setiap pemakainya untuk mengekspresikan gaya personal mereka. Menurut Thresia, karakter tas dari EUNEUN yang memiliki beragam style membuatnya mudah dipadukan dengan berbagai tampilan. Berdasarkan hal ini pula, fleksibilitas menjadi salah satu nilai yang diusung dalam kolaborasi, di mana satu tas dapat dikenakan untuk berbagai gaya berpakaian.
Melalui kerja sama ini, Thresia Mareta juga mengaku memperoleh banyak pembelajaran dari industri fashion Korea Selatan, salah satunya terkait kemampuan eksekusi dalam proses produksi. Thresia menilai para pelaku industri di Korea memiliki sistem yang lebih matang, mulai dari kemampuan mendesain, membuat pola, menjahit, hingga proses finishing yang dikerjakan secara terintegrasi. Selain itu, ia juga mempelajari karakter pasar Korea Selatan yang dinilai telah lebih maju, termasuk dalam pengembangan intellectual property (IP), sebagai bekal untuk memperkuat daya saing di masa mendatang.


