terkinni.id – Indonesia baru-baru ini dilaporkan meminta perusahaan kilang minyak Korea Selatan untuk meningkatkan pasokan bensin ke Tanah Air di tengah kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang dipicu dampak perang di Timur Tengah. Permintaan tersebut disampaikan sekitar pertengahan Oktober melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Korea Selatan dan perusahaan minyak milik negara Indonesia.
Merespons ini, perusahaan kilang Korea Selatan disebut belum dapat memenuhi permintaan tersebut karena adanya kebijakan pembatasan ekspor produk minyak, termasuk bensin. Pihak industri pun dilaporkan telah menyampaikan bahwa regulasi tersebut membuat mereka kesulitan membantu memenuhi kebutuhan Indonesia. Sementara itu, pemerintah Korea Selatan menyatakan akan mempertimbangkan permintaan tersebut apabila diajukan secara resmi.

Kelangkaan bensin sendiri sempat terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali pada pertengahan Oktober lalu. Beberapa SPBU dilaporkan kehabisan stok hingga memicu antrean kendaraan selama berjam-jam. Menanggapi situasi tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia sebelumnya juga menyampaikan rencana untuk mengunjungi China dan India guna mencari tambahan pasokan bensin.
Di sisi lain, industri kilang Korea Selatan pun ternyata sedang berupaya meminta pemerintahnya melonggarkan pembatasan ekspor ketika pasokan domestik dinilai stabil. Mereka mengungkapkan bahwa stok produk minyak, termasuk bensin, telah menumpuk karena produksi melebihi volume penjualan dan pengiriman. Bahkan, salah satu perusahaan menyebut tingginya persediaan membuat mereka kesulitan mendatangkan minyak mentah tambahan.
Meski demikian, Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan hanya akan menaikkan batas ekspor solar mulai November, dari 100 persen menjadi 110 persen dibandingkan volume ekspor pada bulan yang sama tahun sebelumnya. Pemerintah menilai peningkatan impor minyak mentah dan penurunan konsumsi solar mampu membuka peluang ekspor tambahan. Sementara itu, pembatasan ekspor bensin belum akan dilonggarkan sebab konsumsi domestik dinilai masih relatif stabil dan permintaan dari luar negeri lebih rendah dibandingkan solar.



