terkinni.id – Melalui agenda “Friendly Talk” yang diadakan dengan delegasi Korea–Indonesia Parliamentary Friendship Group pada Kamis (12/3), Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPR RI), anggota Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) Indonesia-Korea Selatan, serta delegasi parlemen Korea Selatan membahas penguatan hubungan bilateral, termasuk isu ketenagakerjaan, perdagangan, dan kerja sama strategis lainnya.
Abraham Sridjaja selaku perwakilan GKSB mengatakan jumlah pekerja migran Indonesia di Korea Selatan saat ini mencapai sekitar 60.000 orang, meningkat dari tahun lalu yang hanya mencapai 11.000 pekerja. Sehubungan dengan hal ini, ia kemudian berupaya meminta parlemen Korea untuk memastikan adanya peraturan yang memberikan perlindungan bagi pekerja migran Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, Kim Gihyeon selaku Presiden Korea–Indonesia Parliamentary Friendship Group, menyatakan bahwa peraturan ketenagakerjaan di Korea Selatan memberikan perlindungan yang sama bagi pekerja migran dan warga negara Korea.
Selain isu perlindungan pekerja migran, kedua belah pihak juga membahas peluang untuk memperkuat kerja sama ekonomi melalui peningkatan perdagangan di kedua negara, khususnya bagi pengusaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Abraham lebih lanjut mengatakan bahwa salah satu inisiatif yang didorong adalah skema business matching untuk membuka peluang ekspor dan impor produk potensial antara Indonesia dan Korea Selatan, salah satunya komoditas rempah untuk bahan baku industri kosmetik atau K-Beauty.
Selain kerja sama ekonomi, pertemuan tersebut juga membahas potensi kerja sama strategis di sektor pertahanan, khususnya terkait proyek sistem senjata utama (alutsista) yang saat ini sedang didiskusikan oleh pemerintah kedua negara.
Adapun terkait kerja sama dalam pertahanan ini, pembahasan lebih lanjut kemungkinan akan dirinci dalam agenda kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Korea Selatan.


