terkinni.id – Layaknya Indonesia yang menetapkan tanggal 1 Maret sebagai hari bersejarah untuk memperingati perjuangan TNI dan rakyat melawan pasukan Belanda di Yogyakarta pada ‘Serangan Umum 1 Maret 1949’, Korea juga mengingat tanggal tersebut sebagai ‘Samiljeol‘ atau ‘Gerakan 1 Maret’. Sebagai bagian dari 5 hari besar Korea, ‘Samiljeol’ kemudian juga ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Terjadi pada 1 Maret 1919, ‘Samiljeol’ merupakan bentuk perjuangan masyarakat Korea dalam mewujudkan kemerdekaan semasa penjajahan Jepang silam sebelum akhirnya pemerintahan sementara Republik Korea berhasil didirikan di Shanghai. Dari sekian banyak upaya yang dilakukan, pergerakan ini meninggalkan sejarah yang cukup mendalam sebab memakan korban dalam jumlah yang besar, juga kerusakan rumah warga serta berbagai fasilitas umum seperti sekolah hingga rumah ibadah.
Dalam menjalankan aksi ini, sekitar 1,1 juta masyarakat Korea—termasuk para pelajar—berbondong-bondong turun ke jalanan Seoul hingga menyebar ke kota-kota lainnya di bagian Utara seperti Pyeongyang, Jinnampo, Anju, Seoncheon, Uiju, dan Wonsan. Dengan dipimpin oleh 33 tokoh religius, mereka kemudian melakukan aksi protes secara damai dengan membacakan Deklarasi Kemerdekaan Korea. Kemudian sambil mengibarkan Taegeukgi (bendera nasional) dan menyanyikan lagu kebangsaan “Aegukga”, para demonstran juga konsisten meneriakkan “Manse!” atau “Merdeka!”, membuat aksi ini dikenal pula sebagai Demonstrasi Manse.

Adapun aksi ini selanjutnya berujung pada penahanan sejumlah pemimpin protes, salah satunya Yu Gwan-sun, siswi Sekolah Ewha (17 tahun) yang dikenang atas keberaniannya mendaki Puncak Maebong dan menyalakan api, memberi tanda kepada para demonstran bahwa saatnya telah tiba untuk mengambil tindakan.

Lebih lanjut, seperti didirikannya Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 di sekitar Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, sebuah jalan di wilayah Daegu—yang juga merupakan titik kumpul para demonstran silam—kemudian didedikasikan untuk memperingati hari bersejarah ini. Dihiasi dengan mural-mural yang berhubungan dengan pergerakan ini, jalan tersebut diberi nama ‘3▪1 Jalan Gerakan Manse’ atau dikenal juga dengan sebutan ‘Jalan 90 Tangga’ karena disepanjangnya terdapat 90 anak tangga.

Untuk memperingati ‘Samiljeol’, masyarakat Korea biasanya akan berkumpul untuk menjalani upacara peringatan serta mengibarkan Taegeukgi.


