February20 , 2026

Menuju Sastra Indonesia Mendunia: Antara Identitas, Terjemahan, dan Strategi

Share

terkinni.id – Pada akhir tahun 1980-an, ketika saya sedang menyiapkan disertasi doktoral tentang sastra Indonesia, seorang profesor dari Korea pernah bertanya kepada saya: “Apakah Indonesia juga memiliki sastra?” Pertanyaan itu mengejutkan sekaligus mengecewakan. Namun, di balik ketidaktahuan tersebut, tersimpan kenyataan pahit: sastra Indonesia belum dikenal luas di dunia internasional.

Sebagai seorang peneliti yang sepanjang hidupnya mendalami karya-karya Pramoedya Ananta Toer, saya meyakini bahwa sastra Indonesia tidak kalah dengan sastra bangsa mana pun. Karya-karya Pramoedya memiliki kedalaman sejarah, kemanusiaan, dan refleksi sosial yang universal. Bahkan, jika dibandingkan dengan karya-karya sastra yang memperoleh pengakuan global, termasuk yang meraih Hadiah Nobel, saya percaya bahwa kualitas sastra Indonesia memiliki potensi yang setara.

Namun, kita juga harus mengakui bahwa dalam sejarahnya, sastra Indonesia pernah menghadapi keterbatasan. Sebelum perubahan politik tahun 1998, ruang ekspresi para sastrawan relatif sempit, terutama dalam memilih tema dan sudut pandang. Setelah reformasi, lanskap sastra Indonesia berubah secara signifikan. Para penulis memperoleh kebebasan yang lebih luas, dan hal ini mendorong lahirnya karya-karya dengan perspektif yang lebih beragam dan kritis.

Indonesia adalah negara dengan keragaman etnis dan budaya yang luar biasa. Keragaman ini merupakan sumber kekayaan yang tidak ternilai bagi perkembangan sastra. Oleh karena itu, potensi Indonesia untuk menjadi kekuatan budaya dunia sebenarnya sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana mengelola potensi tersebut secara sistematis dan berkelanjutan.

Lalu, apa yang dimaksud dengan globalisasi sastra Indonesia? Secara sederhana, globalisasi sastra adalah terciptanya situasi di mana pembaca di berbagai negara membaca dan menikmati karya sastra Indonesia. Pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana mencapainya?

Langkah pertama adalah memperkenalkan Indonesia itu sendiri kepada dunia luar. Tidak mungkin orang luar tertarik pada sastra Indonesia jika mereka tidak mengenal kelebihan bangsa dan negara Indonesia. Pengalaman Korea Selatan menunjukkan hal ini dengan jelas. Melalui gelombang budaya populer seperti K-pop, drama Korea, kuliner, dan produk budaya lainnya, Korea berhasil membangun citra nasionalnya. Akibatnya, minat terhadap sastra Korea juga meningkat secara alami.

Langkah kedua adalah menghasilkan karya-karya berkualitas tinggi. Sastra yang mampu menembus batas nasional biasanya mengangkat nilai-nilai universal kemanusiaan, seperti kebebasan, keadilan, dan martabat manusia. Namun demikian, kekuatan utama sastra Indonesia justru terletak pada kekhasannya—nilai-nilai lokal, budaya, dan pengalaman historis yang unik. Dunia tidak membutuhkan karya yang seragam, melainkan suara yang autentik.

Langkah ketiga, yang tidak kalah penting, adalah penerjemahan. Tanpa terjemahan, karya sastra akan tetap terkurung dalam batas bahasa. Dalam konteks ini, kualitas terjemahan menjadi faktor penentu. Sebuah karya besar dapat kehilangan daya tariknya jika diterjemahkan secara buruk. Sebaliknya, terjemahan yang baik dapat menghidupkan kembali karya tersebut dalam bahasa lain.

Pengalaman Korea Selatan dapat menjadi referensi penting. Sejak tahun 1996, pemerintah Korea mendirikan lembaga khusus, yaitu Literature Translation Institute of Korea (LTI Korea), yang secara sistematis mendukung penerjemahan sastra Korea ke berbagai bahasa. Hingga kini, sekitar tiga ribu karya Korea telah diterjemahkan ke lima puluh bahasa. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa globalisasi sastra memerlukan dukungan institusional yang kuat dan berkelanjutan.

Selain itu, kerja sama internasional juga sangat penting. Dalam konteks hubungan Indonesia–Korea, kolaborasi antara lembaga, universitas, dan penerbit dapat membuka jalan bagi pertukaran budaya yang lebih luas. Pendidikan penerjemah juga harus diperkuat, karena tanpa sumber daya manusia yang kompeten, upaya globalisasi sastra akan sulit terwujud.

Tidak kalah penting adalah memperkuat basis pembaca di dalam negeri. Tidak realistis berharap pembaca asing tertarik pada karya yang tidak dibaca oleh masyarakatnya sendiri. Oleh karena itu, budaya membaca harus terus ditumbuhkan, dan karya sastra harus mendapat tempat yang layak di tengah masyarakat Indonesia.

Peran pemerintah juga sangat krusial. Dukungan terhadap penulis, penerbit, dan industri buku harus diperkuat. Kebijakan yang mendorong produksi dan distribusi karya sastra akan menciptakan ekosistem yang sehat bagi perkembangan sastra nasional.

Saat ini, generasi baru penulis Indonesia menunjukkan potensi yang menjanjikan. Meskipun tokoh-tokoh besar seperti Pramoedya Ananta Toer, W.S. Rendra, Mochtar Lubis, dan Nh. Dini telah tiada, estafet sastra Indonesia terus berlanjut. Karya-karya penulis muda menunjukkan kualitas yang tidak kalah, bahkan dalam beberapa aspek, menawarkan perspektif yang lebih segar dan global.

Pada tahun 2019, dengan dukungan Komite Buku Nasiona Indonesia, LTI Korea menerjemahkan dan menerbitkan dalam bahasa Korea sebanyak 23 cerpen karya oleh 10 penulis Indonesia, termasuk Ben Sihib. Karya-karya tersebut menunjukkan kualitas yang sangat tinggi dan menjadi salah satu upaya penting dalam memperkenalkan keunggulan sastra Indonesia kepada masyarakat Korea. Ini merupakan langkah penting untuk menunjukkan kepada dunia bahwa sastra Indonesia tidak hanya memiliki masa lalu yang gemilang, tetapi juga masa depan yang cerah.

Pada akhirnya, globalisasi sastra Indonesia bukanlah proses yang instan. Ia memerlukan strategi jangka panjang, kerja sama lintas sektor, dan komitmen yang konsisten. Sastra bukan sekadar produk budaya, melainkan juga cerminan identitas bangsa. Dengan memperkenalkan sastra Indonesia ke dunia, kita tidak hanya menyebarkan karya, tetapi juga memperluas dialog kemanusiaan lintas budaya.

Dan mungkin suatu hari nanti, tidak akan ada lagi pertanyaan seperti yang pernah saya dengar puluhan tahun lalu. Dunia akan mengetahui dengan sendirinya bahwa Indonesia bukan hanya memiliki sastra, tetapi juga memiliki suara yang penting dalam percakapan global umat manusia.

Koh Young Hun
Profesor Emeritus Hankuk University of Foreign Studies, Seoul
Direktur The Korea-Indonesia Center

Related

KOSPI 5000 dan Makna Kebangkitan Ekonomi Korea (Part II)

terkinni.id - Pada 2 Juni 2025, tepat sebelum Presiden...

KOSPI 5000 dan Makna Kebangkitan Ekonomi Korea (Part I)

terkinni.id - Pada 2 Juni 2025, tepat sebelum Presiden...

Kerja Sama Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia-Korsel Terus Diperluas

terkinni.id - Duta Besar Repulik Indonesia untuk Korea Selatan...

Korea Selatan, Mitra Tepat Menuju Indonesia Emas 2045

terkinni.id - Hubungan Indonesia dan Korea Selatan berkembang signifikan...

Indonesia-Korsel adalah Stabilizer Regional

terkinni.id - Indonesia dan Korea Selatan sama-sama memiliki kepentingan...