terkinni.id – Hankuk University of Foreign Studies mengadakan kuliah umum bertema “Memori Kolektif Korea-Indonesia: Sebuah Catatan Awal.” Kuliah umum yang diselenggarakan pada 8 Desember 2025 di Gedung Humaniora Hankuk University of Foreign Studies, Seoul ini cukup istimewa karena menghadirkan Koh Young Hun Fellow, Korea-Indonesia Center (KIC) dari Indonesia, yaitu Dr Sukardi Rinakit.

Dalam paparannya, Dr Sukardi Rinakit menyampaikan 3 fenomena yang menempati top of mind memori kolektif Indonesia-Korea. Pertama, yaitu Pemberontakan Ambarawa, di mana perlawanan terhadap tentara Jepang pada 4 Januari 1945 menunjukkan kerja sama Phorokamsiwon dan Heiho.

Phorokamsiwon adalah para pemuda Korea yang dimobilisasi Jepang untuk menjaga kamp tahanan Sekutu di Hindia Belanda. Sementara Heiho adalah militer bentukan Jepang di Indonesia pada masa Perang Dunia II. Dalam Pemberontakan Ambarawa, dua kelompok ini berkolaborasi melawan tentara Jepang demi kepentingan kedua negara, yaitu kemerdekaan Indonesia dan kemerdekaan Korea.
”Bahkan salah seorang Phorokamsiwon, Komarudin (Yang Chilsung) akhirnya bergabung dengan pejuang Indonesia di Garut, Jawa Barat, untuk melawan Belanda. Dia berjuang hingga gugur pada 1949, dan dimakamkan di Taman Pahlawan Garut,” ungkap peneliti senior yang akrab disapa Cak Kardi itu.
Memori kolektif kedua, yaitu gerakan demokrasi Korea 1987, di mana para aktivis mahasiswa berhasil menekan rejim berkuasa untuk melakukan pemilihan umum secara langsung. Gerakan ini telah menginspirasi para aktivis Indonesia, hingga terbangun jaringan sistematis di antara aktivis kedua negara. Jejaring aktivis ini membuahkan hasil satu dekade kemudian, ketika Gerakan Reformasi mengakhiri politik otoriterisme, dan Indonesia pun memasuki sistem politik yang demokratis.
Memori Ketiga, Hallyu atau Korean Wave. Menurut penelitian Gangsim Eom (Tempo, 29/12/24), kuatnya gelombang budaya ini sampai membuat anak-anak Indonesia lebih mengenal budaya Korea dibanding budayanya sendiri. Meskipun begitu, hallyu juga membawa relasi timbal balik, di mana budaya Indonesia pun merembes ke Korea melalui produk-produk makanan, batik, maupun film.
“Ketiga memori kolektif itu menunjukkan bahwa ingatan bawah sadar bangsa Korea dan Indonesia adalah memori yang baik. Ada kerjasama perjuangan, inspirasi dan kreativitas,” lanjut Cak Kardi.
Menurutnya, memori baik ini akan mempengaruhi preferensi seseorang atau suatu generasi. Narasi dominan yang bersumber dari film, komik, lagu, makanan, dan lain-lain yang memenuhi alam bawah sadar (sub-consciousness) akan muncul menjadi tindakan suatu generasi dalam mengelola sumberdaya.
Dalam konteks Indonesia, generasi yang lahir di tahun 1900-1960, alam bawah sadarnya diisi narasi-narasi yang berakar dari Eropa dan Amerika Serikat. Karakteristik mereka etnonasionalis dan tindakannya kolektif. Ketika generasi ini tumbuh menjadi kelompok produktif maka preferensi mereka adalah barang-barang produk Eropa dan Amerika Serikat. Mereka membeli Mercedes Bens, BMW, Ford, Jeep, dan lain-lain. Mereka juga gemar pergi ke negara-negara Eropa atau Amerika Serikat.
“Generasi 1960-1980, tumbuh dengan dominasi narasi Jepang seiring membanjirnya produk-produk film, komik, manga dan lain-lain. Karakteristik mereka cenderung radikal dan menyukai tindakan kolektif. Ketika dewasa dan mencapai kemandirian ekonomi, preferensi mereka adalah produk-produk Honda, Toyota, Daihatsu, Sony, dan lain-lain,” ungkap Cak Kardi.
Cak Kardi melanjutkan, bahwa generasi 1980-2000 lahir dengan pengaruh kuat dari China. Mereka generasi yang adaptif dan rasional. Saat ini, generasi itu telah menjadi eksekutif muda dan kalangan professional yang menyukai produk-produk dari China. Di sisi lain, produk-produk Amerika, Eropa, Jepang dan Korea, terutama mobil, kalah saing dengan produk China seperti BYD.
Adapun generasi 2000-2020, lahir dengan pengaruh hallyu yang berkarakter kreatif dan kolaboratif. Narasi yang memenuhi alam bawah sadar mereka adalah K-pop, K-drama, K-beauty, K-food, Webtoon, games, dan lain-lain.
“Bisa dibayangkan, jika dengan negara-negara yang menyisakan memori kolektif kurang baik seperti Belanda dan Jepang pun orang Indonesia bisa beradaptasi, apalagi dengan Korea yang jejak memori kolektifnya baik,” jelas Cak Kardi.
Karena itu, Cak Kardi memprediksi bahwa 15-20 tahun ke depan, dominasi produk Korea di Indonesia akan sangat kuat. Demikian juga dengan produk Indonesia di Korea. Lebih lanjut, dia memperkirakan bahwa Indonesia Emas 2045 kemungkinan besar akan terwujud dalam formula kolaborasi Indonesia-Korea. Oleh karena itu, para pembuat keputusan Indonesia dan Korea perlu meningkatkan kerjasama di bidang ekonomi, industri, dan kebudayaan.


